World Food Day 2021 : Strategi Composting pada Food Recovery Hierarchy

Diperbarui: 16 Nov 2021

Bertepatan pada World Food Day 2021, Komunitas Surplus menjalankan campaign dengan tema Food Recovery Hierarchy dan berkesempatan untuk mewawancarai Wilma Chrysanti selaku Founder dari Kota Tanpa Sampah. Sejalan dengan tema yang diusung oleh Komunitas Surplus kali ini, Kota Tanpa Sampah berada pada posisi ke-5 dalam Food Recovery Hierarchy, yaitu composting. Tidak hanya fokus pada kegiatan akhir dalam mengolah sampah, Kota Tanpa Sampah memiliki fokus yang komprehensif dalam menanggapi perilaku warga perkotaan dalam merespon sampah.


Berdiri pada tahun 2015, Kota Tanpa Sampah diinisiasi oleh LabTanya dalam menanggapi tantangan hidup masyarakat urban dalam merespon masalah persampahan. Sampah merupakan permasalah yang dianggap tidak pernah selesai, kompleks dan terus bertambah karena minimnya upaya masif dalam pengurangan sampah. Kota Tanpa Sampah bertujuan untuk mengembangkan praktek hidup masyarakat yang memiliki kesadaran ekologis dan minim sampah.


Kota Tanpa Sampah ingin mengubah cara pandang masyarakat yang melihat persoalan sampah sebagai hal yang “kotor” untuk menjadi “bersih”. Dimana cara pandang tersebut dinilai hanya menyelesaikan masalah di “hilir” tanpa melihat dari mana sumber sampah terjadi. Kota tanpa Sampah menganggap persoalan sampah merupakan bagian dari indikator perencanaan produksi dan konsumsi. Karenanya, Kota Tanpa Sampah mencoba membentuk kerangka baru yang lebih komprehensif dalam menyelesaikan isu sampah di kota.


Menanggapi persoalan sampah, Kota Tanpa Sampah membentuk strategi bersiklus bernama strategi 3 pintu yakni pintu depan (pra-konsumsi), pintu tengah (konsumsi), dan pintu belakang (paska-konsumsi). Pintu depan merupakan strategi sebelum kita memproduksi dan mengkonsumsi sesuatu. Pintu tengah merupakan strategi saat memproduksi dan konsumsi sesuatu. Terakhir, pintu belakang sebagai strategi setelah memproduksi dan mengkonsumsi sesuatu agar tidak menjadi sampah.


Kota Tanpa Sampah menggunakan pendekatan akar rumput yang aktif berkegiatan di masyarakat sekitar. Kota Tanpa Sampah mengawali pergerakannya di daerah Tanggerang Selatan, dimana target dari kegiatan tersebut ialah rumah tangga. Strategi yang digunakan ialah dengan menciptakan modul rumah minim sampah dan menantang warga sekitar untuk menerapkan 14 hari hidup tanpa sampah.


Kota Tanpa Sampah berikut modul rumah minim sampah dan strategi 3 pintu yang disosialisasikan, berhasil menekan produksi sampah sebesar 40-90% di tiap rumah tangga. Hal tersebut menuai perhatian dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah setempat. Saat ini, Kota Tanpa Sampah berhasil menerapkan modul dan strategi 3 pintu pada berbagai daerah di Jakarta, Tanggerang Selatan dan Banjarmasin.



Tantangan yang dihadapi Kota Tanpa Sampah dalam mensosialisasi kegiatan ialah pandangan beberapa warga yang menganggap hal ini sebagai sesuatu yang asing dan menyulitkan. Meski begitu, seiring berjalannya waktu perubahan paradigma berangsur berubah dalam menyikapi sampah. Serta transfer pengetahuan dan informasi yang berangsur dapat diaktivasi di kondisi saat ini.


Solidaritas dan kolaborasi antar pihak dianggap sebagai pemacu konsistensi Kota Tanpa Sampah untuk tetap berjalan. Tentu dalam menciptakan perubahan yang menyeluruh dalam isu persampahan tidak dapat dilakukan seorang diri. Untuk itu, Kota Tanpa Sampah berharap akan semakin banyak warga yang sadar serta aktif dalam menangani isu sampah di perkotaan.


Hasil interview ini telah diunggah di Instagram Komunitas Surplus. Cek disini

18 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua