top of page

Sustainable Diet untuk Melawan Perubahan Iklim

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa limbah makanan menyumbang 10% gas rumah kaca yang diketahui berpengaruh terhadap perubahan iklim. Pemborosan makanan serta sumbangsih gas rumah kaca yang dihasilkan terjadi sejak proses produksi, distribusi hingga konsumsi akhir di rumah. Terlebih ketika makanan tersebut di buang dan membusuk, ia akan mengeluarkan gas rumah kaca berupa Metana (CH4).


Menurut laporan The Economist Intelligence Unit, Indonesia merupakan negara dengan sumbangsih food waste tertinggi no. 2 di dunia yakni sebesar 300 kg per orang per tahunnya. Sebuah penelitian di Kanada mengungkapkan bahwa dengan membuang 3 kg makanan, setara dengan 23 kg karbon dioksida (CO2) yang dilepaskan ke atmosfer. Dari hal tersebut, tak terbayangkan berapa banyak akumulasi emisi CO2 yang dihasilkan dari sampah makanan di seluruh dunia.


Laporan IPCC mengungkapkan jika kita secara kolektif mengadopsi pola makan nabati, kita dapat mengurangi setara dengan 8 gigaton karbon dioksida per tahun. Maya Almaraz, selaku peneliti di Universitas California mengungkapkan bahwa keputusan personal kita mengenai makanan dapat sangat berdampak terhadap perubahan iklim (Murdock, 2017). Industri daging diketahui memiliki kontribusi sebesar 18% dari emisi gas rumah kaca, lebih besar dari yang dihasilkan transportasi. Sedangkan menurut laporan FAO, kacang-kacangan serta makanan laut memiliki sumbangsih paling minim terhadap karbon dibandingkan dengan komoditas makanan lainnya.


Keberlanjutan menjadi topik utama dalam diskusi pangan selama beberapa tahun terakhir, terutama dalam menghadapi perubahan iklim dan ketahanan pangan. Oldways Common Ground Consensus menyatakan bahwa kelestarian lingkungan adalah kunci untuk pola makan yang sehat. Sustainable Diet atau Pola makan berkelanjutan memastikan kita dapat memberi makan generasi sekarang tanpa merusak sumber daya lingkungan yang dibutuhkan untuk memberi makan generasi mendatang. Pola makan berkelanjutan membuat penggunaan sumber daya seperti air, tanah, dan pupuk secara efisien dan memproduksi lebih sedikit gas rumah kaca.


Pola makan nabati merupakan pilihan yang aman bagi lingkungan, namun apakah kita harus sepenuhnya menghilangkan konsumsi daging demi kelestarian lingkungan? Pola makan Vegan diketahui paling berkontribusi dalam mengurangi karbon, namun ternyata pola makan Mediterania atau Mediterranean diet juga memiliki sumbangsih serupa dengan pola makan Vegan. Mediterranean diet dianggap sebagai model budaya yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, yang diterapkan negara-negara Mediterania dalam mitigasi perubahan iklim dikutip dari Foreword: Mediterranean diet and climatic change.



Sumber : https://nutrition.org/living-mediterranean-lifestyle/


Secara umum Mediterranean diet mengacu pada sebagian besar hasil bumi, biji-bijian, dan kacang-kacangan, serta beberapa lemak dan ikan yang menyehatkan. Pedoman umum yang direkomendasikan untuk pola diet ini ialah porsi besar sayuran, buah-buahan, biji-bijian dan lemak sehat seperti kacang-kacangan, biji-bijian, dan minyak zaitun; porsi sedang ikan dan susu; porsi sedikit telur; serta porsi sangat sedikit daging putih dan merah. Dengan pola diet ini kita tetap mendapatkan nutrisi yang seimbang tanpa perlu mengeliminasi jenis makanan tertentu. Poin nya adalah pada porsi tertentu yang perlu dibatasi.


Berbagai penelitian sebelumnya telah menyatakan bahwa Mediterranean diet memiliki peran terhadap lingkungan dan iklim. Houlton selaku direktur Institut Lingkungan UCLA mengungkapkan bahwa Mediterranean diet dapat membantu mengurangi global warming sebesar 15% di tahun 2050 . Mediterranean diet mengajarkan kita untuk menyeimbangkan pilihan makanan dan mengkonsumsinya dengan cara yang tidak berlebihan. Saat ini, sudah seharusnya pola seimbang dan secukupnya menjadi pilihan yang harus kita jalani setiap hari.


Referensi :

Serra-Majem, et al. (2011). Foreword: Mediterranean diet and climatic change. Public Health Nutrition: 14(12A), 2271–2273. doi:10.1017/S1368980011002503



133 tampilan0 komentar