Social Experiment : Kepedulian terhadap Lingkungan yang Dimulai dari Lingkungan Kantor

Selama bertahun-tahun, sampah terus menjadi permasalahan klasik yang dihadapi oleh masyarakat global tak terkecuali Indonesia. Bentuk dan ragam sampah yang terkumpul pun beragam, mulai dari sampah organik sampai sampah yang tidak bisa terurai seperti plastik. Indonesia sendiri diperkirakan menghasilkan sampai 64 juta ton sampah setiap tahunnya. Tahun 2019, Indonesia menghasilkan 67 juta ton sampah. Angka tersebut melewati perkiraan jumlah sampah tahunan Indonesia..


Sampah, sampah, sampah. Alih-alih berkurang, jumlah sampah yang dihasilkan setiap harinya terus meningkat. Di antara berbagai jenis sampah yang dihasilkan, sampah organik mendominasi pemetaan bentuk dan jenis sampah di tempat pembuangan akhir (TPA). Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan bahwa komposisi sampah yang dihasilkan oleh Indonesia didominasi oleh sampah organik yang mencapai 60%, sampah plastik sebanyak 14%, sampah kertas 9% dan sampah karet 5,5%. Sampah lainnya terdiri atas logam, kain, kaca dan jenis sampah lainnya. Sampah organik sendiri adalah sampah yang bisa mengalami dekomposisi dan terurai menjadi bahan yang lebih kecil. Pada umumnya, sampah organik berupa daun-daunan, jerami, alang-alang, rumput dan sisa makanan seperti sayuran, buah ataupun makanan lain seperti protein hewani. Seringkali sampah-sampah organik ini luput dari perhatian kita. Nyatanya, sampah organik pun menjadi kontributor sampah terbesar dan menyebabkan berbagai masalah lingkungan.


Sumber: Unsplash.com


Salah satu jenis sampah organik yang cukup banyak diproduksi adalah sampah sisa makanan atau food waste. Sebuah studi yang dilakukan oleh The Economist mengatakan bahwa setiap orang Indonesia dapat menghasilkan sampah makanan hingga 300 kilogram per tahun. Akan tetapi, permasalahan food waste belum dianggap sebagai permasalahan yang penting. Banyak orang yang belum sadar akan urgensi untuk melakukan konsumsi makanan secara sadar dan bijak serta mengolah sampah sisa konsumsi makanan mereka. Tentunya, makanan merupakan unsur yang esensial dalam kehidupan kita. Makanan mendorong manusia untuk mampu beraktivitas. Permasalahan timbul ketika kita dengan ceroboh membuang-buang makanan. Seringkali ketika kita tidak habis mengkonsumsi makanan, kita membiarkan makanan tersebut kadaluarsa atau langsung membuangnya. Padahal, sampah makanan merupakan salah satu pemicu masalah lingkungan mulai dari pencemaran hingga krisis iklim.


Hal yang dapat kita lakukan untuk mengurangi jumlah sampah makanan tentunya dengan melakukan konsumsi secara bijak dan bertanggung jawab. Kita dapat membeli makanan secukupnya. Cara lain juga dapat dilakukan dengan berbagi makanan berlebih tersebut kepada orang sekitar atau mereka yang membutuhkan. Sebagai sebuah komunitas yang peduli lingkungan khususnya terkait masalah food waste, Komunitas Surplus memiliki beberapa program yang bertujuan untuk mengedukasi, mengkampanyekan dan mengajak masyarakat untuk peduli pada permasalahan food waste dan mewujudkan zero food waste di Indonesia.




(Dokumentasi Komunitas Surplus, Juli 2020)


Salah satu program yang dimiliki oleh Komunitas Surplus adalah Social Experiment. Social Experiment adalah kegiatan yang dijalankan oleh Komunitas Surplus yang bertujuan untuk melakukan survei terkait food waste dan masalah sampah lainnya di masyarakat. Pada social experiment kali ini, Komunitas Surplus hendak mengetahui keinginan orang awam untuk mengurangi jumlah food waste dengan membagikan makanan berlebih kepada orang lain dan kemauan mereka untuk melakukan pemilahan sampah. Social experiment kali ini dilakukan di salah satu coworking space di daerah Jakarta Pusat dengan targetnya orang-orang yang bekerja di tempat tersebut. Bentuk social experiment yang dilakukan adalah dengan mengumpulkan makanan berlebih dari donatur berupa beberapa botol minuman bervitamin yang dapat diambil secara cuma-cuma. Kemudian, orang-orang yang mengambil botol minuman suplemen tersebut diminta untuk mengisi beberapa kuesioner yang tersedia. Kuesioner tersebut berisi pertanyaan “Apakah kamu mau mengurangi food waste dengan berbagi makanan berlebih kepada orang-orang di coworking space ini?” dan “Apakah kamu mau mencoba memilah sampah?” dengan instruksi setelah mengisi kedua kuesioner tersebut, orang yang telah selesai mengkonsumsi minuman yang disediakan mengembalikan botol minuman tersebut ke tempat yang telah disediakan. Pengisian kuesioner dilakukan dengan mengadakan polling.




Hasil kuesioner menunjukkan bahwa seluruh responden memiliki keinginan untuk mengurangi food waste dengan membagi makanan berlebih yang mereka miliki kepada orang-orang di coworking space tersebut.




Kemudian dari 20 responden, hanya 11 orang yang mengisi kuesioner kedua terkait keinginan untuk melakukan pemilahan sampah atau sekitar 55% dari total responden. Keseluruhan responden yang menjawab kuesioner memiliki keinginan untuk melakukan pemilahan sampah.



Terakhir, kami juga mengamati perilaku untuk benar-benar melakukan pemilahan sampah dengan meminta responden untuk mengembalikan botol sisa konsumsi ke tempat khusus yang telah disediakan untuk diberikan ke bank sampah. Hasilnya, 8 dari 11 responden yang menyatakan mau mencoba memilah sampah mengembalikan botol sisa konsumsi ke tempat yang disediakan. Hal tersebut menunjukan bahwa meskipun ada keinginan untuk melakukan pemilahan sampah, hal tersebut belum benar-benar dilakukan.