Peningkatan Sampah Makanan selama Bulan Ramadan dari Sudut Pandang Penjual

Dalam beberapa pembahasan, peningkatan sampah makanan selama Bulan Ramadan diidentikan dengan pola konsumsi konsumen serta peran dan kemampuan penyedia makanan, misalnya hotel, yang melebihi batas normal pada bulan-bulan biasa. Namun, sobat pernah terbayang gak, bagaimana sudut pandang penjual dalam hal ini? Apakah penjual juga turut serta dalam perilaku membuang makanan?


The Consumers Association of Penang (CAP) menghimbau warga Malaysia untuk tidak membuang makanan. Penelitian menunjukkan bahwa sampah makanan meningkat antara 15% dan 20% selama bulan Ramadan dibandingkan bulan-bulan lainnya. Pada tahun 2018, tercatat sebanyak 20.088 ton makanan terbuang setiap hari, yang besaran jumlahnya sangat cukup untuk memberi makan satu setengah kali populasi Malaysia.


Salah satu faktor yang menyebabkan peningkatan sampah makanan di Malaysia tidak dapat terlepas dari peran penjual makanan, yang bisa saja menyiapkan terlalu banyak makanan untuk mengantisipasi bisnis yang baik ketika berjualan menjelang waktu buka puasa tiba. Beberapa hal yang berkaitan dengan penjual yang menyiapkan makanan terlalu banyak dan dapat menciptakan food waste:

  1. Makanan disiapkan dari rumah dengan kapasitas lemari es dan ruang penyimpanan yang terbatas, sehingga meningkatkan kemungkinan kontaminasi bakteri

  2. Sebagian besar hidangan mengandung daging atau santan yang mudah rusak, dan tidak praktis jika membawa kompor untuk memanaskan hidangan di tempat berjualan. Padahal, suhu minimal yang diperlukan untuk membunuh bakteri dalam makanan adalah 74 derajat celcius

  3. Hidangan yang disiapkan disimpan dalam wadah selama berjam-jam, hal ini menyebabkan bakteri akan berkembang biak dengan lebih cepat

  4. Ada kemungkinan bahwa makanan yang tidak terjual, tidak akan diambil lagi karena sudah rusak dan harus dibuang

  5. Penjual makanan berbasis rumahan kerap memiliki masalah terkait kepemilikan lemari es yang kurang memadai. Akhirnya, makanan yang tersisa di penghujung hari harus dibuang. Terlebih, mereka membutuhkan semua wadah yang tersedia untuk makanan yang akan disiapkan di keesokan harinya.


Sumber: sea.mashable.com

Melihat hal-hal diatas, ada baiknya untuk mengajukan pertimbangan kepada otoritas terkait sebagai berikut:

  1. Mewajibkan calon penjual makanan untuk menyebutkan jenis makanan yang akan dijual, sehingga otoritas terkait dapat membatasi jumlah kios yang menjual jenis makanan yang sama

  2. Ukuran bazar Ramadhan harus ditentukan sesuai dengan ukuran masyarakat. Jika terlalu banyak bazar yang diselenggarakan, maka hanya akan menimbulkan dampak negative

  3. Merencakan bazar Ramadhan sejak dini agar otoritas terkait dapat merencakanakan lokasi bazar, sehingga yang menjual jenis makanan yang sama pun dapat tersebar

  4. Menganjurkan masyarakat untuk membawa wadah sendiri ketika membeli makanan untuk berbuka

  5. Makanan yang masih dalam kondisi baik, disumbangkan ke bank makanan untuk dialokasikan Kembali kepada pihak yang membutuhkan


Pada bulan suci ini, kita didorong untuk mengurangi—bahkan menghilangkan—kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik, termasuk perilaku pemborosan. Cara terbaik yang dapat kita lakukan untuk mengurangi sampah makanan selama bulan Ramadan adalah memahami kembali esensi berpuasa, serta bergerak dari tingkatan yang lebih kecil terlebih dahulu, dalam skala rumah tangga misalnya. Selain itu, perlunya penegasan hukum yang efektif agar dapat mendorong masyarakat untuk meminimalisir sampah dan menerapkan gaya hidup yang berkelanjutan.


Sobat Surplus bisa mengikuti diskusi mengenai topik ini bersama anggota Komunitas Surplus lainnya, loh! Yuk, daftar disini!

20 tampilan0 komentar