Penanggulangan Banjir dari Food Waste Rumah Tangga

Seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia mempunyai iklim tropis yang terkadang tidak menentu musimnya atau bisa disebut musim pancaroba. Pada masa musim pancaroba biasanya terjadi hujan yang sangat lebat sehingga dapat mengakibatkan banjir, apalagi ditambah banyaknya sampah-sampah di sungai akibat dari pembuangan sampah sembarangan.


Dalam menanggulangi masalah banjir kita harus membiasakan diri melakukan aksi sederhana seperti mengolah food waste. Food waste merupakan makanan yang dikonsumsi oleh manusia kemudian dibuang begitu saja dan akhirnya menumpuk di TPA. Masyarakat masih banyak yang belum mengetahui cara mengolah food waste dari rumah tangga, padahal ada loh cara untuk memanfaatkannya seperti biopori. Cara ini merupakan cara yang dianjurkan oleh pemerintah dikarenakan lebih mudah diterapkan dan lebih efektif untuk meresapkan air hujan dan pemanfaatan sampah organik pada berbagai tipe penggunaan lahan dibandingkan dengan teknologi sumur resapan yang sudah lama diperkenalkan.


Apa sih Biopori itu?


(Sumber gambar : Dokumentasi pribadi, 2020)


Biopori menurut Griya (2008) merupakan lubang-lubang kecil pada tanah yang terbentuk akibat aktivitas organisme dalam tanah seperti cacing atau pergerakan akar-akar dalam tanah. Lubang tersebut akan berisi udara dan menjadi jalur mengalirnya air. Jadi, air hujan tidak langsung masuk ke saluran pembuangan air, tetapi meresap ke dalam tanah melalui lubang tersebut.


Terus hubungan food waste dengan air hujan itu apa saja sih?

Jadi, food waste rumah tangga merupakan sumber energi bagi organisme tanah yang berguna untuk proses dekomposisi di dalam tanah. Food waste termasuk sampah organik lingkungan yang dapat diurai oleh bakteri secara alami dan berlangsung cepat.


Melawan Banjir Dengan Food waste Rumah Tangga, Bagaimana Caranya ya?

Cara melakukannya yaitu kita harus menyiapkan alat dan bahan, antara lain:

  1. Alat

  2. Bor biopori

  3. Paralon diameter 8 cm, tinggi 60 cm

  4. Solder

  5. Plastik ( 3 buah)

  6. Tali rafia (3 buah)

  7. Cetok

  8. Ember (1 buah)

  9. Bahan

  10. Air

  11. Sampah organik rumah tangga (500gr, dipotong ukuran 3x3 cm)

  12. Cairan EM4 (30%-40%) (2 tutup botol/perlakuan).

Kemudian langkah selanjutnya yaitu melakukan prosedur sebagai berikut,

  1. Cari lokasi yang tepat untuk membuat Lubang Resapan Biopori (LRB)

  2. Buat lubang minimal sedalam 60 cm , bias sampai 100 cm, diameter 8 cm

  3. Tanah yang akan dilubangi disiram dengan air supaya mudah untuk dilubangi.

  4. Letakkan mata bor tegak lurus dengan tanah untuk memulai pengeboran, jika tidak ada bor bias pakai linggis.

  5. Lubangi tanah dengan bor Biopori, dengan menekan bor ke kanan sambal diputar ke kanan hingga bor masuk ke dalam tanah.

  6. Untuk memudahkan dalam pengeboran, lakukan penyiraman dengan air selama pengeboran.

  7. Setiap kurang lebih 15 cm atau sedalam mata bor berhenti dulu, Tarik mata bor sambal tetap diputar ke arah kanan, untuk membersihkan tanah yang berada di dalam mata bor.

  8. Bersihkan tanah dari dalam mata bor di atas permukaan tanah dengan menggunakan pisau atau alat tusuk lainnya, dimulai dengan menekan tanah dari sisi dalam mata bor sehingga tanah mudah dilepaskan.

  9. Lakukan terus proses pelubangan tanah berulang-ulang hingga mencapai kedalaman minimal 60 cm.

  10. Ukur dengan memasukkan penggaris atau batang bambu / kayu untuk mengukur kedalaman yang sesungguhnya

  11. Pada bagian bawah diberi ranting untuk sirkulasi udara & air

  12. Selanjutnya isi limbah (500 gr)→(daun dipotong-potong/limbah rumah tangga setinggi 20 cm, siram dengan air atau EM4 tergantung perlakuan, demikian seterusnya isi limbah tiap 20 cm disiram sesuai perlakuan sampai penuh dan paling atas disiram sesuai perlakuan

  13. Pada bagian atas lubang beri paralon (jika ada) untuk menandai dan menghindari kerusakan lubang biopori.

  14. Tiap 1 minggu sekali siramlah dengan air sebanyak 600 ml di permukaan atas (jika sudah hujan tidak perlu disiram air).


Pengertian EM4


Cairan EM4 yang sudah dicampur air

(Sumber gambar: Dokumentasi pribadi, 2020)


Penambahan EM4 dan molase pada biopori yaitu ditujukan agar dapat mempercepat pengomposan sampah tersebut karena pengomposan yang terjadi secara alamiah tanpa penambahan mikroorganisme akan berlangsung lebih lama jika dibandingkan dengan pengomposan dengan penambahan mikroorganisme. Effective Microorganism 4 (EM4) merupakan mikroorganisme pengurai atau bakteri pengurai yang dapat menghilangkan bau, meningkatkan kandungan mikroba dalam tanah, memperbaiki kualitas tanah, serta dapat mempercepat pengomposan (pembusukan). Sedangkan molase itu sendiri adalah sejenis sirup yang merupakan sisa dari proses pengkristalan gula pasir. Effective Microorganism 4 (EM4) digunakan sebagai inokulan sedangkan molase digunakan sebagai bahan makanan tambahan bagi mikroorganisme (Suparman, 1994:1-3).


Mudah sekali bukan cara untuk pembuatan biopori dari food waste rumah tangga. Dengan cara sederhana ini diharapkan bisa menanggulangi masalah banjir di sekitar kita. Mari menjaga alam kita dengan memanfaatkan food waste menjadi hal yang berguna. Yuk dicoba!


REFERENSI

Asisten Dosen Biologi Tanah. 2020. Petunjuk Kegiatan Biopori. Yogyakarta : FMIPA UNY.

Griya. 2008. Mengenal dan Memanfaatkan Lubang Biopori. (Online).

(http://kumpulaninfo.com, diakses pada tanggal 24 Maret 2021 16.32 WIB).

Maman Suparman. 1994. EM4 Mikroorganisma Yang Efektif. Sukabumi: KTNA.



76 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua