Metode Kompos Takakura: Solusi Mudah untuk Mengolah Limbah Food Waste di Rumah

Ketika mendengar kata ‘composting’ apa yang ada di benak kita pertama kali? Rumit? Sampah? Bau kurang sedap? Pupuk?


Di Indonesia, pengolahan sampah secara composting di rumah-rumah masih terdengar sangat asing. Padahal di luar sana, contohnya adalah di Amerika Serikat, composting di rumah sudah menjadi salah satu hal yang lumrah. Bahkan, US EPA (United States Environmental Protection Agency) telah mengeluarkan aturan khusus mengenai komposting di rumah.


Composting adalah proses pengendalian penguraian secara biologi dari bahan organik, menjadi produk seperti humus yang dikenal sebagai kompos. Penguraian bahan organik itu (disebut juga dekomposisi) dilakukan oleh mikro-organisme menghasilkan senyawa yang lebih sederhana. Pada saat komposting terjadi proses-proses perubahan secara kimia, fisika dan biologi.


Pengolahan sampah secara composting dilakukan untuk mengolah sampah organik, salah satunya adalah food waste. Pengolahan secara composting banyak dijumpai di sekitar TPA dengan skala masif untuk menghasilkan pupuk yang dapat dijual kembali. Walaupun begitu, composting di rumah juga dapat kita lakukan untuk mengolah sampah yang kita hasilkan sendiri, memproduksi pupuk yang dapat digunakan kembali, dan juga membantu mengurangi timbulan food waste di TPA .


Terdapat beberapa metode composting yang terdapat saat ini, salah satunya adalah Metode Takakura yang dapat dilakukan dengan mudah di rumah. Metode Takakura ditemukan oleh Koji Takakura. Komposting takakura merupakan salah satu metode yang mudah untuk diterapkan di rumah. Metode ini memerlukan keranjang berlubang yang terbuat dari plastik, bambu, atau bahan lainnya untuk memastikan adanya udara. Bahan lainnya yang dibutuhkan adalah kardus, dedak, sekam, dan bakteri pengurai. Saat ini, bakteri pengurai dapat diperoleh secara mudah dengan membeli ataupun membuat sendiri dengan mencampur air 12 liter, tape ketela 0,5 kg, tempe 0,25 kg, susu fermentasi 1 botol, dan tetes tebu 2 gelas. Campuran tersebut lalu diperam ke dalam wadah selama dua minggu.


Metode Takakura dilakukan melalui tahap berikut:

  1. Memasukkan kardus ke dalam keranjang untuk menjaga kelembapan

  2. Memasukkan sekam yang berfungsi untuk menyerap air lindi (air yang dihasilkan sampah). Sekam dibuat menyerupai bantal dengan menjahitnya pada kain jaring.

  3. Masukkan bakteri pengurai

  4. Masukkan sampah organik yang telah tecacah

  5. Memasukkan bantalan sekam sekam kembali

  6. Tutup dengan kain untuk menghindari lalat

  7. Setiap hari campuran tersebut diaduk agar bakteri pengurai dapat mendekomposisi sampah secara merata.

Sumber: https://www.banjarejo-tanjungsari.desa.id/


Saat ini sudah banyak LSM yang menjual starter kit untuk melakukan komposting di rumah dengan harga yang beragam apabila kita enggan untuk menyiapkan seluruh perlatannya sendiri. Jadi, tidak ada lagi alasan untuk belum memulai komposting kan? Yuk, mulai kelola food waste kita di rumah!


Referensi

Desa Tanjungsari, 2020. Metode Kompos Takakura Cara Mudah Mengolah Limbah Rumah Tangga Menjadi Kompos. https://www.banjarejo-tanjungsari.desa.id/first/artikel/1858-Metode-Kompos-Takakura--Cara-Mudah-Mengolah-Limbah-Rumah-Tangga-Menjadi-Kompos, diakses pada 8 Mei 2021 pk 21.00

Nuzir, F. A., Hayashi, S., & Takakura, K, 2019. Takakura Composting Method (TCM) as an Appropriate Environmental Technology for Urban Waste Management. International Journal of Building, Urban, Interior and Landscape Technology (BUILT), 13, 67-82.

PIAT UGM, 2018. Pengelolaan Sampah, https://piat.ugm.ac.id/sub-bidang-energi-dan-pengolahan-sampah/ diakses pada 5 Mei 2021 pk 19.00.





8 tampilan0 komentar