top of page

Mencontek Penanganan Sampah Makanan di Korea Selatan

Sampah makanan atau food wastage masih menjadi permasalahan di tiap negara yang merisaukan. Menurut laporan FAO (Food and Agriculture Organization of the United Nations) pada tahun 2013, satu dari tiga makanan yang diproduksi untuk manusia di dunia ini hilang atau terbuang entah kemana. Penanganan sampah makanan menjadi tugas bagi tiap negara dengan tantangan yang berbeda.


Terlihat sampah makanan tidak terlalu berbahaya layaknya sampah plastik, namun jika sampah itu tidak dikelola dengan benar dapat menyebabkan potensi bahaya yang bisa membantu perkembangan global warming. Saat makanan membusuk, gas berbahaya seperti methana akan keluar ke permukaan yang dapat mempengaruhi perubahan temperatur dan iklim. Diperkirakan karbon yang dihasilkan oleh makanan yang telah diproduksi dan tidak dimakan mencapai 3.3 milliar ton ekuivalen CO2 dari greenhouse gases (GHG) yang dikeluarkan pada atmosfer, yang berarti sampah makanan (food wastage) berada pada urutan ketiga dalam penghasil emisi karbon dunia setelah Amerika Serikat dan Cina.


Berbagai negara di dunia mencoba berbagai penanganan untuk mengelola sampah makanan agar dapat bermanfaat. Mungkin setiap negara memiliki masalah yang berbeda, namun tidak ada salahnya untuk belajar antar sesama demi kebaikan bumi ini. Salah satu negara yang telah terbukti berhasil mengurangi masalah ini ialah Korea Selatan.


Sumber : unsplash.com


Fakta mengejutkan datang Korea Selatan yang berhasil menekan program daur ulang food waste dari 5% hingga 95%. Proses ini dilakukan secara bertahap dari tahun 1995 hingga sekarang. Tahun 2005, pemerintah Korea Selatan melarang untuk membuang sampah makanan di tempat pembuangan sampah umum. Kemudian di tahun 2013, dikeluarkan larangan untuk membuang limbah cairan hasil makanan ke laut. Sekarang, Seoul (ibukota Korea Selatan) telah berhasil mengurangi total sampah makanan hingga 400 metrik ton per hari.


Kunci dari proses penanganan sampah ini juga berada pada masyarakat. Sejak 2013, pemerintah mengenalkan aturan wajib membuang sampah makanan dalam kantong khusus yang mudah terurai (biodegradable) dan membayar biaya sesuai dengan volume sampah yang dibuang. Biaya rata-rata keluarga beranggota empat orang ialah sekitar 6 USD atau Rp 90,000 per bulan. Biaya ini dapat dibilang biaya pajak atas limbah makanan mereka. Menurut data pemerintah, skema pembayaran ini dapat membayar sekitar 60% dari biaya pengumpulan dan pengolahan limbah makanan kota.


Teknologi juga berperan dalam membantu program pembayaran sampah berdasarkan volume ini, khususnya di kota besar. Terdapat mesin tempat sampah yang bekerja menggunakan kartu dengan teknologi RFID (radio frequency identification) yang dimiliki oleh tiap rumah. Kartu ini akan digunakan pada mesin tempat sampah modern untuk memberikan data sampah mereka seperti berat volume dan biaya pada tiap kantong biodegradable yang disetorkan. Tagihan nantinya akan diberikan kepada tiap rumah di setiap bulan. Mesin ini sudah mengurangi sampah makanan kota sebanyak 47.000 ton selama 6 tahun, menurut pemerintah daerah di Seoul.


Seoul sedang dalam proses memastikan semua sisa makanan akan dihasilkan menjadi sumber daya, seperti pupuk. Kota ini menangani sekitar 60% limbah makanan, sisanya dikelola oleh kontraktor swasta. Hasil dari pengolahan ini dapat berupa bubuk kering yang bisa menjadi pakan ternak atau pupuk. Sedangkan hasil lainnya ialah cairan yang difermentasi menjadi biogas atau bio-oil dapat digunakan sebagai bahan bakar.


Selain pengolahan sampah di pabrik, urban farm (pertanian perkotaan) di kota juga semakin bermunculan. Ruang antar bangunan atau atap bangunan yang tidak terpakai merupakan lokasi yang cocok. Penduduk setempat dapat mengajukan permohonan dukungan keuangan dan profesional dari pemerintah daerah. Pemerintah daerah mendanai 80 hingga 100 persen dari biaya pemasangan awal proyek ini. Hingga saat ini sudah ada sekitar 170 hektar di Seoul yang dimanfaatkan menjadi urban farm. Jadi hasil dari pengolahan daur ulang sampah makanan dapat dirasakan manfaatnya bagi penduduk kota juga dengan adanya pupuk untuk menanam di kebun.


Walaupun program ini berhasil, namun kebutuhan untuk mengurangi limbah makanan masih sangat penting. Tentunya mereka mengingatkan kepada masyarakat untuk tetap sadar dengan masalah ini dan mencoba mengurangi kebiasaan penggunaan makanan berlebih.


Sumber : unsplash.com


Korea Selatan telah membuktikan bahwa usaha untuk mengatasi permasalahan sampah makanan bisa diselesaikan bersama-sama dengan kerjasama yang baik antar pemerintah dan masyarakat. Inovasi seperti ini yang dibutuhkan dalam negara berkembang seperti Indonesia. Tentu saja diperlukan pendidikan lebih tentang masalah ini agar masyarakat dan pemerintah dapat bekerjasama untuk mengatasi masalah ini.


247 tampilan0 komentar