Mari Mengenal Eco Enzyme, Cairan Ajaib Kaya Manfaat

Dewasa ini, permasalahan sampah masih menjadi kasus yang belum kunjung tuntas ditangani oleh setiap negara di dunia, termasuk Indonesia. Sebagian besar pengelolaan sampah di masyarakat masih bertumpu pada pendekatan akhir (end-of-pipe), yakni sampah dikumpulkan, diangkut, dan dibuang ke tempat pemrosesan akhir sampah. Namun, dalam pelaksanaannya belum dilakukan secara terpadu. Di tempat pembuangan akhir (TPA), antara sampah organik dan nonorganik masih kerap kali tercampur, menganggap bahwa sampah organik tidak menimbulkan dampak berarti. Padahal, tanpa disadari timbunan sampah organik dapat menghasilkan gas metana (CH4) yang berkontribusi terhadap perubahan iklim dan lingkungan. Hal ini karena keberadaan gas metana, sebagai salah satu gas rumah kaca akan memerangkap panas jauh lebih banyak daripada karbondioksida (CO2) sehingga mengakibatkan kerusakan pada lapisan ozon.


Berdasarkan riset Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2017, sampah organik menyumbang sebesar 60 persen dari total sampah yang dihasilkan di Indonesia, dengan estimasi sampah (organik dan nonorganik) 64 juta ton per tahun. Umumnya, alternatif pengolahan sampah organik yang sering dijumpai, seperti membuat sampah organik menjadi kompos dan biodigester. Adapun alternatif lainnya yang dapat dilakukan adalah membuat Eco Enzyme.


Pembuatan Eco Enzyme merupakan salah satu cara efektif manajemen sampah organik yang biasa kita buang ke tempat sampah, menjadi sesuatu yang bermanfaat. Eco Enzyme atau yang dikenal juga dengan enzim sampah merupakan cairan serbaguna yang diperoleh dari hasil fermentasi sampah organik, seperti ampas sayur dan buah, ditambah gula (gula cokelat, gula merah atau gula tebu) serta air. Pertama kali, gagasan ini diperkenalkan sejak tahun 1980-an oleh seorang pendiri Asosiasi Pertanian Organik Thailand, Dr. Rosukon Poompanvong. Prinsip pembuatan Eco Enzyme mirip halnya seperti pembuatan kompos, tetapi ditambahkan air sebagai media pertumbuhan karena produk cairan lebih disukai dan mudah digunakan.


Keistimewaan Eco Enzyme dibandingkan dengan proses pembuatan kompos adalah lebih mudah dibuat karena bahan yang mudah diperoleh dan cara pun cukup simple, serta tidak memerlukan lahan yang luas. Selain itu, Eco Enzyme juga mendukung konsep reuse di mana menggunakan botol-botol bekas air mineral ataupun bekas produk lain sebagai wadah Eco Enzyme.


Apa manfaat dari Eco Enzyme?

Sebagai produk ramah lingkungan, Eco Enzyme memiliki beragam manfaat dalam kehidupan sehari-hari manusia, di antaranya :

  • Cairan disinfektan.

  • Filter udara pada ruangan.

  • Penyembuh luka.

  • Pupuk organik yang dapat meningkatkan kualitas buah dan sayur.

  • Produk pembersih, seperti pengganti deterjen, pencuci piring, sampo, dan lain sebagainya.

  • Untuk mengatasi pemampatan pipa.

Selain itu, cairan yang 100 persen terbuat dari bahan alam ini juga dapat memberi dampak positif terhadap lingkungan, antara lain :

  • Mengurangi pemanasan global dan efek rumah kaca karena dalam prosesnya, Eco Enzyme akan melepaskan gas ozon (O3). Nantinya, gas ozon (O3) akan mengikat karbondioksida (CO2) di atmosfer yang menjebak panas di awan.

  • Menghasilkan karbonat (CO3) dari CO2 yang bermanfaat untuk biota dan tumbuhan laut.

  • Membantu mengolah air limbah dengan cara menurunkan kadar TDS, BOD, dan COD.

  • Kandungan Eco Enzyme juga dijumpai adanya aktivitas amilase, protease, dan lipase yang bisa digunakan untuk mengolah limbah susu.

Bagaimana membuat Eco Enzyme?

Perlu diperhatikan, rasio dalam pembuatan Eco Enzyme menggunakan rumus 1:3:10 (gula:ampas buah dan sayur:air). Misalnya, 1kg gula : 3kg ampas buah dan sayur : 10 liter air atau 300 g gula : 900 g ampas sampah dan sayur : 3 liter air. Mari kita coba!



Sumber : enzymesos.com


Alat :

Wadah plastik kedap udara.

Bahan :

  • Sampah buah maupun sayur dengan kriteria belum dimasak, tidak kering, tidak keras, tidak busuk, tidak berlemak, dan tidak berjamur atau berulat. Jadi, sebaiknya hindari ya, seperti buah alpukat dan durian.

  • Gula (gula cokelat, gula merah atau gula tebu). Pemakaian gula putih tidak dianjurkan karena vitamin dan mineral dalam gula putih sudah banyak terbuang akibat proses pembuatan, juga terdapat bahan kimia tambahan.

  • Air segar.

Langkah :

  1. Siapkan wadah plastik kedap udara. Hindari wadah kaca atau logam karena akan menghambat pemuaian gas dan menyebabkan wadah pecah, akibat aktivitas mikroba selama proses fermentasi.

  2. Campurkan semua bahan ke dalam air. Agar enzim beraroma segar, tambahkan daun pandan, kulit jeruk, sereh, dan sebagainya.

  3. Selama proses fermentasi, taruh di tempat yang sejuk, kering, dan jauh dari paparan sinar matahari langsung.

  4. Biarkan terfermentasi selama 3 bulan, buka tutup wadah setiap hari pada 2 minggu pertama, lalu 2-3 hari sekali, dan selanjutnya seminggu sekali. Pada minggu pertama, akan dihasilkan banyak gas.

  5. Selama proses fermentasi terkadang dijumpai lapisan putih di permukaan larutan. Apabila ditemukan cacing, tambahkan gula sesuai takaran semula, kemudian aduk rata dan tutup wadah kembali.

  6. Setelah 3 bulan, saring larutan Eco Enzyme ke dalam wadah yang berbeda, sedangkan endapan yang tersisa dapat menjadi pupuk organik.

Sumber : enzymesos.com


Konsep pengelolaan sampah menjadi Eco Enzyme diharapkan bisa mengurangi penumpukan sampah di TPA, bahkan dapat memutus distribusi sampah organik karena telah diolah sendiri oleh rumah tangga. Tak hanya itu, proses pembuatan Eco Enzyme bisa menjadi waktu refleksi bagi kita terhadap kebiasaan gaya hidup dengan menghindari konsumsi berlebihan dan memanfaatkan sumber daya yang ada. Jadi, daripada sampah organik langsung dibuang, lebih baik olah menjadi Eco Enzyme. Yuk, atasi masalah sampah jadi produk serbaguna!

102 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua