Ironi Masalah Sampah Makanan di Indonesia

Diperbarui: Mei 27


Gambar : Berbagai hidangan Indonesia (unsplash.com)


Sudah saatnya masyarakat peduli mengenai masalah sampah makanan disaat jumlah yang dihasilkan di seluruh dunia telah mencapai angka yang mengkhawatirkan. Menurut data dari Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), jumlah sampah makanan di dunia adalah sepertiga dari total jumlah makanan yang diproduksi (sekitar 1,3 milyar ton). Sampah makan tersebut terdiri dari 45% sayur dan buah, 35% ikan dan makanan laut, 30% sereal, 20% produk susu, dan 20% daging.


Indonesia juga tak luput dari masalah sampah makanan. Beberapa fakta mengkhawatirkan mengenai sampah makanan di Indonesia meliputi:

  1. Indonesia merupakan negara penghasil sampah makanan terbesar kedua di dunia setelah Arab Saudi

  2. Sampah makanan yang dihasilkan adalah 13 juta metrik ton per tahun

  3. Rata-rata setiap orang di Indonesia menghasilkan 300 kg sampah makanan per tahun

  4. Jumlah sampah makanan yang dihasilkan di Indonesia dapat memberi makan lebih dari 28 juta orang di Indonesia

Sungguh ironis mengingat Indonesia juga memiliki dua masalah gizi kronis sekaligus. Bagaimana hal ini bisa terjadi, apa yang perlu kita ketahui dan kita lakukan untuk mengatasi masalah sampah makanan ini? Yang pertama, perlu kita ketahui bagaimana dan dari mana sampah makanan ini dihasilkan. Kita tentu bisa membayangkan bagaimana perjalanan panjang suatu makanan dan harga yang harus dibayar hingga bisa sampai ke atas piring kita.


Produksi dan Distribusi

  1. Teknologi untuk peternakan dan pertanian di negara kita masih belum mumpuni sehingga banyak produk makanan yang gagal diproduksi

  2. Saat produk makanan telah dipanen atau sudah jadi, produk makanan tersebut rusak dalam proses distribusinya

  3. Pasar menolak produk makanan tertentu karena tidak sesuai dengan standar yang mereka miliki

Sebelum sampai ke tangan konsumen, ternyata banyak makanan yang hilang atau dibuang begitu saja karena faktor-faktor yang telah disebutkan di atas. Hal ini kita kenal dengan istilah food loss. Food loss yang terjadi disebabkan oleh besarnya kuantitas produksi yang tidak diimbangi dengan teknologi yang memadai di masa produksi dan distribusi, sehingga kualitas dari produksi pangan tidak memenuhi standar atau bahkan rusak.


Lalu, apa yang terjadi saat produk makanan tersebut sampai ke konsumen?


Konsumsi

  1. Membeli makan dengan jumlah yang berlebihan, bisa jadi karena lapar mata atau hanya sekedar ingin makan "cantik" untuk diunggah di media sosial

  2. Tidak memperhatikan cara penyimpanan produk makanan yang benar. Pernahkah kalian lupa dengan produk makanan yang kalian beli? Hal ini bisa terjadi karena kalian tidak mengatur penyimpanan produk makanan hingga akhirnya kedaluwarsa dan tidak layak konsumsi lagi

  3. Malu untuk membawa pulang makanan yang berlebih dari restoran

Faktor-faktor di atas menyebabkan masalah food waste, artinya makanan yang masih segar atau layak untuk dimakan terbuang di tangan konsumen atau disebabkan karena kelalaian konsumen yang tidak memperhatikan tanggal kedaluwarsa dari produk makanan tersebut. Beberapa dari kita mungkin pernah atau bahkan sering melakukan hal-hal tersebut. Yang hilang dalam situasi ini adalah rasa menghargai nilai dari makanan yang kita konsumsi, dimana kita lupa mengenai nilai utama makanan yaitu sebagai pemenuh kebutuhan gizi manusia. Banyak yang menganggap bahwa makanan adalah sarana hiburan atau meriahnya kegiatan makan adalah sebuah keharusan. Padahal hal ini dapat membawa dampak buruk untuk lingkungan.



Gambar : Habiskan makananmu (unsplash.com)


Apa saja sih dampak buruk dari sampah makanan?

  1. Tumpukan sampah makanan yang membusuk menghasilkan gas metana yang memiliki sifat mudah terbakar dan dapat meledak sewaktu-waktu. Bahkan disebutkan bahwa gas metana lebih kuat mempengaruhi pemanasan global dibandingkan gas CO2.

  2. Proses produksi-distribusi-konsumsi menghasilkan gas emisi CO2 yang berbahaya bagi lingkungan dan menyebabkan pemasanan global yang berujung pada perubahan iklim.

Maka dari itu, kita perlu menyadari dan mulai bergerak melakukan hal sekecil apapun untuk menangani masalah sampah makanan. Kita bisa melakukan “makan bijak” seperti membiasakan menghabiskan apa yang ada di piring kita sampai tidak bersisa. Walaupun hal ini sederhana, namun gerakan mengurangi sampah makanan akan berkontribusi besar untuk kesejahteraan manusia dan keselamatan lingkungan.


Kontribusi besar tersebut dapat mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. SDGs ditetapkan oleh Perserikataan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dibagi menjadi 17 kategori tujuan yang saling berkaitan. Sangat penting diketahui bahwa seluruh dunia harus berusaha untuk mencapai semua tujuan tersebut di tahun 2030. Semua tujuan tersebut mencakup tantangan dunia yang sedang dihadapi saat ini, termasuk kemiskinan, ketidaksetaraan, perubahan iklim, degradasi lingkungan, kedamaian dan keadilan. Upaya yang dilakukan untuk memerangi sampah makanan dapat mendukung tujuan SDGs nomor 2 Zero Hunger, nomor 12 Responsible Consumption and Production, dan nomor 13 Climate Change.


Kerjasama yang bersinergi memang dibutuhkan antara masyarakat, komunitas, dan pemerintah agar masalah sosial dan lingkungan dapat diatasi dengan baik. Walaupun di Indonesia memang belum ada regulasi yang secara spesifik mengatur tentang sampah makanan, namun terdapat UU No. 18 tahun 2008 yang mengatur mengenai Manajemen Sampah. Dalam undang-undang tersebut terdapat pernyataan yang mewajibkan kita sebagai warga negara untuk mengurangi sampah didukung dengan peraturan daerah yang berlaku. Maka dari itu, kita layaknya mematuhi regulasi tersebut salah satunya dengan ‘makan bijak’ untuk mengurangi sampah makanan.


Besar harapan kita agar Indonesia menjadi negara yang masyarakatnya bijak dan tahu cara menghargai nilai makanan. Peringkat kedua di dunia bukanlah suatu kebanggaan, namun hal ini bisa menjadi sebuah refleksi atau renungan bagi kita untuk bersama-sama memerangi masalah sampah makanan.


“Respect for food is a respect for life, for what we are and what we do” –Thomas Keller-


0 tampilan

Surplus Indonesia

PT Ekonomi Sirkular Indonesia

Jl. HOS. Cokroaminoto No.84-86, RT.1/RW.5, Menteng, Kec. Menteng

BISNIS

KOSTUMER

©2020

  • Black LinkedIn Icon
  • Black Instagram Icon
  • Black Twitter Icon