Food Waste dan Pandemi Covid-19

Diperbarui: 30 Mar

Hingga saat ini, persoalan mengenai pengolahan, pencegahan, dan pengurangan sampah makanan masih terus menerus digalakkan oleh berbagai pihak. Sebab, sampah makanan merupakan masalah multi-sektor yang dampaknya dapat meliputi bidang ekonomi, lingkungan, dan sosial. FAO mencatat sekitar 1.3 miliar ton sampah makanan diproduksi secara global. Total persenan tertinggi dipegang oleh sayur dan buah-buahan, yakni sebesar 45%, sebagai makanan yang paling banyak terbuang. Bila persoalan sampah makanan tidak segera diatasi, maka kita akan terus dihantui oleh berbagai masalah seperti bertambahnya jejak karbon, perubahan iklim, kasus kelaparan yang tidak ada ujungnya, serta malnutrisi yang semakin parah.


Terjadinya Pandemi Covid-19 selama dua tahun ini, nyatanya menambah bagian cerita dari persoalan sampah makanan. Tentunya, hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari kebijakan-kebijakan yang tercipta akibat pandemi, yang salah satu tujuannya adalah mencegah perluasan penyebaran virus berbahaya ini. Misalnya, ada kebijakan pembatasan skala lokal dan nasional yang dampaknya mengarah ke berbagai hal, seperti gangguan alur siklus pasok pangan, penutupan sebagian besar ruang publik, transformasi kegiatan offline menjadi online, dan sebagainya. Lalu apa sih hubungan Pandemi Covid-19 dengan sampah makanan?


Terdapat dua pendapat dari para ahli terkait produksi sampah makanan selama Pandemi Covid-19 berlangsung, yakni (1) ketika terjadi krisis, akan ada kecenderungan untuk ‘menabung’ dibandingkan ‘membuang’ makanan yang mengarah kepada pengurangan sampah makanan, dan (2) gangguan yang terjadi akibat pandemi seperti lockdown, keterbatasan penyimpanan (storage limitations), dan penimbunan (stockpiling), ditambah dengan kurangnya keterampilan memasak dan manajemen bahan makanan serta tindakan panic buying, dapat meningkatkan jumlah produksi sampah makanan selama pandemi berlangsung.


Berbicara mengenai penimbunan makanan saat pandemi, sebagian besar dari kita tentu tidak asing dengan pemberitaan ini. Masih ingatkah, Sobat, dengan pemberitaan habisnya salah satu merk susu steril beserta bahan pangan lainnya di berbagai pasar tradisional dan supermarket pada awal gelombang pandemi terjadi? Kehabisan stok diakibatkan oleh panic buying di berbagai kalangan masyarakat, kemudian makanan yang telah dibeli akan ‘ditimbun’ oleh beberapa pembeli sebagai strategi mereka untuk berjaga-jaga agar tidak mengalami kekurangan pangan apabila buruknya terjadi kehabisan stok di pasar. Apabila makanan yang ‘ditimbun’ tidak cepat dikonsumsi sebelum tanggal expired, maka makanan tersebut akan terbuang secara percuma. Pada kasus ini, peningkatan pembelian pangan dapat mendorong peningkatan sampah makanan.


Panic buying dapat terjadi setidaknya karena dua faktor, yakni adanya kekhawatiran tidak mendapat cukup pasok pangan dan tidak adanya jaminan serta ketidakpastian informasi yang dapat menjadi dasar kepercayaan masyarakat bahwa pasok pangan akan selalu mencukupi kebutuhan mereka. Ketidakpastian informasi terkait ketersediaan pasok pangan dapat menjadi stressor bagi beberapa pihak yang memiliki need for cognitive closure (NFC) yang tinggi. Sebab, mereka memiliki kebutuhan atas jawaban yang jelas—pada konteks ini adalah informasi stok pangan—sehingga mereka menolak untuk berada di posisi ambiguitas dan kebingungan. Pada akhirnya, ketidakpastian ini mendorong mereka untuk membeli bahan pangan dengan jumlah yang lebih banyak, karena ketidakinginan untuk terus menerus berada di posisi tidak pasti.


Meskipun dalam beberapa tulisan peningkatan pembelian cenderung mengarah ke peningkatan sampah makanan, namun penelitian lain menunjukkan bahwa adanya penurunan sampah makanan selama Pandemi Covid-19 berlangsung. Penurunan makanan selama pandemi dapat terjadi karena (1) peningkatan perencanaan daftar belanja, (2) pembelian yang hanya difokuskan kepada makanan yang dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh, (3) kebijakan lockdown yang mendorong terciptanya banyak ide untuk memanfaatkan makanan dengan lebih baik, dan (4) pengurangan waktu keluar rumah serta berkurangnya pembelian secara impulsif. Bukti terkait penurunan sampah makanan selama pandemi dapat kita lihat di negara Italia dan Inggris.


Italia

Adanya panic buying dan peningkatan jumlah pembelian makanan disinyalir akan meningkatkan jumlah sampah makanan, namun hasil penelitian di Italia menunjukkan jumlah sampah makanan justru menurun. Hal ini dipicu oleh kebiasaan pembelian makanan yang bergeser dari bahan pangan segar, menjadi makanan tidak mudah rusak (non-perishable) seperti makanan kaleng dan beku (frozen food), serta pasta yang diawetkan, sehingga penggunaannya dapat bertahan lama dan limbah yang dihasilkan tidak terlalu banyak. Selain itu, aturan lockdown yang diterapkan justru meningkatkan kesadaran warga Italia untuk lebih memperhatikan lingkungan, karena ketidakinginan untuk menambah tekanan kepada sistem pengelolaan sampah yang sudah mulai terganggu mobilisasinya selama pandemi.


Inggris

Pada awal penerapan lockdown, jumlah sampah makanan di Inggris berkurang drastis. Namun saat lockdown dilonggarkan, jumlah sampah makanan kian melonjak. Penurunan sampah makanan paling banyak disebabkan oleh pembelanjaan yang sudah direncanakan sebelumnya, serta memasak secara kreatif. Selain itu, warga Inggris juga diliputi rasa takut dan khawatir untuk keluar rumah walaupun sekadar ke toko, serta mereka takut akan kehabisan makanan sehingga mendorong mereka untuk ‘membuang’ makanan lebih sedikit. Belum pasti faktor utama apa yang menyebabkan peningkatan jumlah sampah makanan, namun kembalinya aktivitas perekonomian hampir seperti semula menyebabkan gaya hidup sebelum lockdown muncul kembali lagi menjadi salah satu hal yang dicurigai sebagai salah satu penyebab peningkatan jumlah sampah makanan.


Dua hal diatas memperlihatkan bahwa ada kemungkinan positif berupa penurunan jumlah sampah makanan selama Pandemi Covid-19, namun bagaimana menurut Sobat? Apakah setelah pandemi berakhir, gaya hidup yang mengarah kepada penurunan jumlah sampah makanan tetap dapat dipertahankan? Atau justru gaya hidup ‘konsumtif’ dapat Kembali lagi?


Sobat Surplus bisa mengikuti diskusi mengenai topik ini bersama anggota Komunitas Surplus lainnya, loh! Yuk, daftar disini!


Referensi

  • Ellison, B. & M. Kalaitzandonakes. (2020). Food Waste and Covid 19: Impacts along the Supply Chain. farmdoc daily (10): 164. Department of Agricultural and Consumer Economics. University of Illinois at Urbana-Champaign.

  • Pappalardo, G., dkk.. (2020). Impact of Covid-19 on Household Food Waste: The Case of Italy. Front. Nutr.

  • ReFED. (2021). How COVID-19 Has Affected Food Waste – and How the Food System Has Responded.

73 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua