Food Waste di Pesta Pernikahan

Sakralnya pesta pernikahan yang hanya diselenggarakan satu kali dalam seumur hidup mendorong orang untuk saling berlomba-lomba dalam menciptakan pesta yang mewah dan megah. Selain itu, pesta pernikahan juga dijadikan tempat untuk berkumpul dengan banyaknya relasi sekaligus berbagi kebahagiaan kepada para tamu undangan. Melihat fakta-fakta tersebut, tak jarang pihak yang menyelenggarakan pernikahan ingin melayani seluruh tamu undangan dengan baik, salah satunya dengan cara menyediakan makanan dalam berbagai jenis, serta jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan jumlah tamu undangan yang datang. Bila diukur pembagiannya, biaya makanan memegang persenan yang cukup besar jika dibandingkan dengan total pengeluaran dalam menyelenggarakan pernikahan. Fakta ini dapat dilihat dari data yang memperlihatkan bahwa rata-rata calon pengantin di US dapat mengeluarkan biaya sebesar $34.000 untuk menyelenggarakan pernikahannya, dan sekitar 30% dari total pengeluaran dialokasikan untuk persediaan makanan. Di Indonesia sendiri, biaya makanan (catering) dapat berkontribusi sebesar 50%-60% terhadap total pengeluaran biaya pernikahan secara keseluruhan. Ironisnya, acara yang seharusnya menjadi hari bahagia, justru mengarah kepada dihasilkannya banyak sampah makanan dari pesta pernikahan.


Ketersediaan makanan pada pesta pernikahan memegang peranan yang penting. Pasalnya, makanan kerap dianggap sebagai tujuan kedua setelah memberikan rasa dukacita kepada mempelai dan keluarga, sehingga keinginan pihak yang menikah untuk melayani seluruh tamu mereka dalam acara pernikahan menjadi sangat kuat. Salah satu caranya adalah dengan memastikan bahwa seluruh tamu akan mendapat porsi dari semua jenis makanan yang dihidangkan. Selain itu, sebagai salah satu unsur yang menjadi pusat di pesta pernikahan, ketersediaan makanan juga dapat menjadi indikator sosial untuk kekayaan dan prestise, yang mengarah ke kompetisi antar kelas sosial. Dengan kata lain, makanan di pesta pernikahan dapat menjadi simbol status sosial seseorang.


Selain dari pihak yang menyelenggarakan pernikahan, tamu undangan juga dapat menghasilkan sampah makanan. Terdapat penelitian yang menunjukkan faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang dalam membuang makanan selama di pesta pernikahan. Dengan menggunakan teori planned of behavior yang menjelaskan tindakan atau perilaku, penelitian tersebut memperlihatkan bahwa ada tiga faktor yang dapat mendasarinya, yakni (1) sikap, (2) norma subjektif, dan (3) kontrol terhadap perilaku.


Sikap Partisipan terhadap Sampah Makanan

Sikap dapat dilihat dari bagaimana individu atau kelompok memberikan respon terhadap sesuatu. Pada konteks ini, penelitian tersebut fokus kepada bagaimana partisipan memberikan respon terhadap tindakan food waste yang terjadi di pesta pernikahan.


Hal apa saja yang dilihat sebagai keuntungan dalam berperilaku food waste?

Ketika diajukan pertanyaan diatas, 5 dari 9 partisipan mengaku bahwa mereka merasa perlu untuk mencicipi berbagai jenis hidangan yang disediakan. Selain untuk menurunkan rasa penasaran, juga untuk mencapai rasa kenyang. Kemudian, 3 dari 9 partisipan mengaku bahwa mereka malas mengantri, sehingga sedari awal mengambil porsi makan yang banyak dalam satu piring. Namun sayangnya, tindakan ini kerap menyisakan sisa makanan di atas piring. Menariknya, 1 dari 9 partisipan memiliki pandangan yang unik, yakni ia ingin mematahkan stigma bahwa menghabiskan makanan di piring ketika datang ke pesta pernikahan berarti sedang merasa lapar.


Sumber: telah diolah dari tulisan Prasetyo (n.d.)


Hal apa saja yang dilihat sebagai kerugian dalam berperilaku food waste?

Sebanyak 3 dari 9 partisipan mengkorelasikan perilaku food waste dengan mubazir, yang bertentangan dengan ajaran Sunnah Nabi. Selain itu, partisipan juga mengkaitkan perilaku food waste merupakan tindakan kampungan yang tidak elegan. Kemudian, 2 dari 9 partisipan mengatakan bahwa perilaku food waste sama saja dengan mengambil hak tamu lain dengan mengambil makanan dalam jumlah porsi yang sama denga napa yang mereka buang. Terakhir, 4 dari 9 partisipan mengkaitkannya perilaku food waste dengan perasaan bersalah, kemungkinan-kemungkinan akan dampak yang dihasilkan bagi lingkungan, serta ketidakinginan untuk menjadi gemuk.


Sumber: telah diolah dari tulisan Prasetyo (n.d.)


Hal lain yang terlintas di pikiran terkait perilaku food waste?

Pada bagian ini, peneliti hanya menjelaskan 7 dari 9 partisipan saja. Bagi 5 dari 9 partisipan, perilaku food waste dikorelasikan dengan mubazir. Pernyataan mengenai mubazir dikaitkan dengan ajaran agama Islam dan ketidaksesuaian dengan Sunnah Nabi yang mengharuskan segala sesuatu dalam jumlah yang cukup, tidak berlebih-lebihan apalagi menyebabkan sesuatu terbuang dengan percuma. Sedangkan 2 dari 9 partisipan mengkaitkan perilaku food waste dengan tindakan rakus, yang menunjukkan ketidakmampuan dalam mengontrol keinginannya dalam mencicipi makanan yang tersedia di pesta pernikahan.


Sumber: telah diolah dari tulisan Prasetyo (n.d.)


Norma Subjektif Partisipan terhadap Sampah Makanan

Pada bagian ini, pembahasan didasarkan kepada tekanan sosial—baik individu maupun kelompok—yang dapat mendorong atau menghambat partisipan dalam berperilaku food waste. Hasilnya, 4 dari 9 partisipan terdorong untuk melakukan perilaku food waste karena ada teman yang seolah-olah menyetujui perilaku tersebut. Menariknya, Ketika ditanyakan pihak mana yang paling mungkin melakukan perilaku food waste, 8 dari 9 partisipan menjawab Ibu dan anak-anak. Dengan kata lain, terdapat pandangan bias gender terkait pelaku food waste di pesta pernikahan.


Kontrol terhadap Perilaku

Bagian ini fokus kepada faktor-faktor yang menjadi penghambat atau pendorong yang membuat seseorang melakukan suatu tindakan. Peneliti mengajukan pertanyaan terkait hal yang mendorong atau memudahkan para partisipan untuk berperilaku food waste di pesta pernikahan. Hasilnya, 5 dari 9 partisipan penasaran terhadap sajian makanan yang dihadirkan sehingga pengambilan dalam jumlah dan jenis berlebih dilakukan, 2 dari 9 partisipan merasa tidak adanya penjaga makanan memungkinkan mereka untuk mengambil dalam porsi yang banyak, dan 2 partisipan lainnya malas untuk mengantri sehingga menurut mereka cukup untuk mengambil porsi dalam jumlah banyak dalam satu kali pengambilan makanan.


Sumber: telah diolah dari tulisan Prasetyo (n.d.)


Upaya Pengurangan Sampah Makanan dari Acara Pernikahan

  1. Memilih catering yang sudah aware dengan isu sampah makanan

  2. Bekerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang akan membantu pendistribusian makanan berlebih dari pesta pernikahan

  3. Keinginan penyelenggara pesta pernikahan untuk melayani seluruh tamu, biasanya mengarahkan mereka kepada produksi sampah makanan akibat jumlah makanan yang disediakan berlebih. Oleh karena itu, diperlukan takaran yang lebih akurat dalam merencanakan jumlah makanan

  4. Menyediakan kotak take away yang ramah lingkungan, serta mengemas makanan yang belum termakan untuk tamu undangan

  5. Penerapan RSVP agar jumlah makanan yang akan disediakan lebih sesuai

  6. Menyediakan penjaga atau staf di tiap prasmanan untuk membantu para tamu undangan dalam mengambil makanan dengan porsi yang pas. Adanya penjaga terbukti mengurangi produksi sampah makanan sebanyak 15-20& banyaknya


Project yang Telah Dilakukan di Indonesia

  • A Blessing to Share

Project ini merupakan hasil kolaborasi antara Bridestory dengan Foodcycle, dengan cara mengajak seluruh calon pengantin, khususnya di Jakarta, untuk menyumbangkan kelebihan makanan dari pesta pernikahan mereka agar dapat didistribusikan kepada yang membutuhkan. Selain untuk mengurangi gap antara kelebihan dan kekurangan makanan, pesan yang tersirat dari project ini adalah menciptakan momen bahagia lainnya; tidak hanya untuk para calon pengantin, namun juga pihak-pihak yang mendapatkan kelebihan makanan tersebut.


  • Food Heroes oleh Food Sedekah Truck

Project ini merupakan hasil kolaborasi antara Bridestory dengan Foodcycle, dengan cara mengajak seluruh calon pengantin, khususnya di Jakarta, untuk menyumbangkan kelebihan makanan dari pesta pernikahan mereka agar dapat didistribusikan kepada yang membutuhkan. Selain untuk mengurangi gap antara kelebihan dan kekurangan makanan, pesan yang tersirat dari project ini adalah menciptakan momen bahagia lainnya; tidak hanya untuk para calon pengantin, namun juga pihak-pihak yang mendapatkan kelebihan makanan tersebut.


Ternyata, banyak cara dan project yang sudah dilakukan dalam misi penyelamatan makanan berlebih di pesta pernikahan, baik sebagai penyelenggara pernikahan, tamu undangan, atau pihak ketiga yang akan membantu dalam pendistribusian makanan berlebih. Menurut Sobat Surplus, hal apa lagi yang dapat kita lakukan?


Sobat Surplus bisa mengikuti diskusi mengenai topik ini bersama anggota Komunitas Surplus lainnya, loh! Yuk, daftar disini!


Referensi

26 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua